
Bagaimana sih asal muasal dan perkembangan Rig Drilling di Indonesia, mari simak selengkapnya!
Rig Drilling Indonesia dikenal sebagai Rig Pengeboran atau Anjungan Pengeboran. Rig Drilling adalah suatu instalasi peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air, minyak, atau gas bumi, atau deposit mineral bawah tanah.
Sejak zaman kolonial Belanda, Indonesia sudah mulai eksplorasi dan produksi minyak bumi. Eksplorasi minyak di Indonesia termasuk yang paling awal di dunia. Pengeboran minyak pertama di Indonesia dilakukan oleh J. Reerink pada tahun 1871, hanya 12 tahun setelah pengeboran minyak pertama di dunia di Pennsylvania, AS. Pada pertengahan abad ke-19, Corps of the Mining Engineers dari Belanda melaporkan penemuan minyak di berbagai daerah di Indonesia, seperti Karawang, Semarang, Kalimantan Barat, Palembang, Rembang, Bojonegoro, Surabaya, dan Lamongan. Dari empat sumur yang dibor, dihasilkan 6000 liter minyak bumi. Meskipun belum komersial, ini menjadi titik awal berkembangnya pengeboran minyak di Indonesia.
Periode 1882-1898 adalah era pionir pengeboran minyak di berbagai daerah seperti Langkat, Surabaya, Kutai, dan Palembang. Aeilko Jans Zeilker adalah orang pertama yang mendapatkan konsesi minyak di Telaga Said, Langkat pada tahun 1883. Lapangan ini mulai berproduksi pada tahun 1884 dan menghasilkan 8000 liter minyak bumi. Untuk mendukung produksi, dibangun jaringan pipa dan kilang minyak. Kilang minyak Pangkalan Brandan selesai dibangun pada tahun 1892, dan enam tahun kemudian, fasilitas penyimpanan dan pelabuhan ekspor minyak pertama di Indonesia dibangun di Pangkalan Susu.
Dua perusahaan besar, Royal Dutch dan Shell, menjadi pemimpin industri. Royal Dutch bergerak di eksplorasi, produksi, dan pengilangan, sementara Shell di transportasi dan pemasaran. Keduanya bergabung pada tahun 1907 menjadi Royal Dutch-Shell Group, yang kemudian dikenal sebagai Shell. Perusahaan-perusahaan minyak besar masuk ke Hindia Belanda setelah diterbitkannya undang-undang pertambangan (Indische Mijnwet) pada tahun 1899, yang memungkinkan pihak swasta terlibat dalam pengusahaan minyak bumi. Standard Oil of New Jersey (SONJ) datang pada tahun 1912 dan mendirikan Nederlansche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM), yang berhasil memproduksi hingga 10-20 ribu barel per hari dari sumur Talang Akar.
Pada tahun 1957, pemerintah Indonesia mengambil alih perusahaan-perusahaan minyak asing, termasuk BPM dan Standard Oil Company of California. Tiga tahun kemudian, Pertamina didirikan sebagai perusahaan minyak milik negara. Pada tahun 1981, ditemukan ladang gas alam besar di Arun, Aceh oleh Mobil Oil. Di tahun 1990-an, fokus ekspansi produksi minyak beralih ke perairan dalam seperti Selat Makassar dan Laut Timor. Krisis ekonomi Asia pada tahun 1998 menyebabkan banyak proyek minyak dan gas ditunda atau dibatalkan. Pada tahun 2001, pemerintah membuka sektor minyak dan gas untuk investasi asing dan swasta melalui Undang-Undang Migas No. 22/2001. Penerapan Kebijakan Energi Nasional pada tahun 2009 bertujuan meningkatkan produksi dan eksplorasi. Di tahun 2010-an, teknologi modern seperti deepwater dan shale gas semakin digunakan dalam eksplorasi dan produksi. Pada tahun 2020, pemerintah mengumumkan rencana besar untuk mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2030.
Dengan pengalaman dan pengetahuan yang mendalam dalam industri ini, PT Dunia Alat Berat sebagai principal pemegang merek TAHA di Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan dalam industri pertambangan dan minyak bumi, mewakili bagian penting dari sejarah dan masa depan industri ini di Indonesia.
Jadilah bagian dari sejarah kemajuan industri pertambangan dan minyak bumi di Indonesia dengan memilih Rig Drilling TAHA, eksklusif hanya tersedia melalui PT Dunia Alat Berat. Bersama-sama, kita membangun masa depan yang lebih baik untuk industri ini! Silahka hubungi kami melalui Nomor 081150500020 untuk menjadi bagian dari sejarah kami dan sejarah rig Drilling di indonesia.
Source : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
DOSEN PEMBIMBING : Nurul Kamal, ST, MT
Oleh : Ririna Dara